Rabu, 12 November 2014

laporan Ektraksi Pelarut

nama: Konstansius Liam Sulung
Teknobiologi Atma Jaya Yogyakarta, 2014



I.PENDAHULUAN

A. Judul percobaan
            Ekstraksi pelarut

B. Tujuan percobaan
            1. Mengenal metode pemisahan kimia
            2. Mengetahui kadar asam stearat didalam suau larutan











                                                II. METODE

A. Alat dan Bahan
·         Alat:   
a. corong
b. corong pemisah
c. Gelas ukur
d. Gelas beker
e. Pro pipet
f. Pipet ukur
g. Pipet tetes
h. Buret
i. Satatif
j. Klem

·         Bahan:
a. PE (Petroleum Eter)
b. Sabun
c. NaCl jenuh
d. H2O
e. Indikator PP
f. Alkohol
g. NaOH



B. Cara Kerja
            Larutan sabun sebanyak 20 ml dimasukkan kedalam corong pemisah kemudaian setelah itu ditambahkan dengan Petroleum Eter (PP) sebanyak 10 ml. kemudian corong pemisah digoyang-goyangkan dalam keadaan tertutup namun, sesekali tutup corong dibuka untung membuang gas yang ada didalam corong tersebut. Goyangkan terus corong pemisah tersebut sampai tidak ada lagi gas yang keluar.
            Setelah tidak ada lagi gas yang keluar,cairan dilihat apakah terjadi emulsi atau tidak,jika emulsi tidak terjadi bisa di ulangi dari awal. Namun, apabila emulsi tersebut terjadi maka ditambahkan NaCl jenuh sebanyak 5 ml.kemudian kocok lagi corong pemisah kurang lebih 10 menit sampai larutan tercampur dan tidak ada gas yang keluar lagi. Kemudian corong pemisah didiamkan sampai terbentuknya dua lapisahn. Lapisan atas berupa PE sedangkan lapisan bawah berupa air sabun. Lapisan air sabun dikeluarkan melalui corong pemisah dan ditampung didalam gelas beker,Sedangkan PE ditampung ditampung kedalam erlenmeyer. Percobaan terssebut dapat diulangi sebanyak tiga kali dengan masing-masing pengulangan ditambah dengan PE yang baru dengan volume yang sama.
            Larutan PE yang tertampung didalam erlenmeyer kemudian dimasukan lagi kedalam corong pemisah dan ditambahkan dengan air sebanyak 10 ml serta 2 tetes indikator PP. corong pemisah dikocok sampai larutan tercampur lalau larutan didiamkan dan sampai terbentuk dua lapisan. Lapisan air dibuang . penambahan air dan indikator dilakukan terus menerus sampai larutan tidak lagi bersifat basa dengan ditandai warna bening pada larutan.
            Larutan PE yang terdapat didalam erlenmeyer kemudian ditambah dengan 2 tetes PP dan dititrasi dengan NaOH dengan konsentrasi 0,01 N sampai warna menjadi pink. Perlakuan yang sama dilakukan juga pada alkohol. Setelah proses titrasi selesai,hitung kadar asam lemak dalam sdabun sebagai asam stearat dengan menggunakan rumus :
% as.stearat     = Vol pengenceran sabun x  N NaOH x V NaOH x BM stearat                                           volume PE+ vol alkohol                                                   x 100%                                                       berat sabun


                                               









           


                                    III.HASIL DAN PEMBAHSAN

A. Tabel Hasil
Tabel 1. Hasil Ekstraksi Pelarut
NO
Vol sabun
Vol. PE
Berat sabun
Vol. alkohol
Vol. NaOH
% asam stearat
1
400 ml
30 ml
3300 mg
20 ml
20 ml
33,27 %
0,23 %
2
400 ml
30 ml
3300 mg
20 ml
0,2 ml
alkohol
PE









Tabel 2. Hasil perubahan setelah titrasi (PE)
Perubahan
Sebelum
Sesudah
Warna
Bening
Pink
Volume
30 ml
O,2 ml

Tabel 3. Hasil perubahan setelah titrasi (alkohol)
Perubahan
Sebelum
Sesudah
Warna
Bening
Pink
Volume
20 ml
19,8 ml




B .Pembahasan
            Ektraksi pelarut adalah  suatu proses pemisahan subtansi atau zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak subtansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ektraksi pelarut adalah teknik pemisahan diamana larutan didalam air,dibiarkan berhubungan dengan pelarut lain, dengan syarat bahwa pelarut kedua ini tidak bercampur dengan pelarut pertama. Dapat pula dikatakan bahwa ektraksi pelarut adalah teknik pemisahan menyangkut distribusi suatu zat terlarut diantara dua fase cair yang tidak saling bercampur( Underwood,1990).
Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat pelarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur , seperti benzen, karbon tetraklorida atau kloroform. Batasan nya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbada dalam kedua fase pelarut. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejmlah gugus yang diinginkan dan mungkin merupakan gugs pengganggu dalam analisis secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugs pengganggu ini diekstraksi secara selektif( Arsyad,2001).
            Prinsip metode ini dinyatakan dalam hukum-hukum seperti:
a. Hukum fase Gibb’s menyatakan bahwa :
P + V = C + 2
Keterangan : P = fase
C = Komponen
V = Derjat kebebasan
Pada ekstraksi pelarut , kita mempunyai P = 2 , yaitu fase air dan organik, C= 1, yaitu zat terlarut di dalam pelarut dan fase air pada temperatur dan tekanantetap, sehingga V = 1, jadi kita akan dapat :
2 + 1 = 1+2, yaitu P + V = C + 2

b. Menurut Hukum distribusi Nernst :
Jika [X1] adalah kosentrasi zat terlarut dalam fase 1 dan [X2] adalah kosentrasi zat terlarut dalam fase 2, maka pada kesetimbangan,
P + V = C + 2
Keterangan : P = fase
C = Komponen
V = Derjat kebebasan
Pada ekstraksi pelarut , kita mempunyai P = 2 , yaitu fase air dan organik, C= 1, yaitu zat terlarut di dalam pelarut dan fase air pada temperatur dan tekanantetap, sehingga V = 1, jadi kita akan dapat :
2 + 1 = 1+2, yaitu P + V = C + 2
Menurut Hukum distribusi Nernst :
Jika [X1] adalah kosentrasi zat terlarut dalam fase 1 dan [X2] adalah kosentrasi zat terlarut dalam fase 2, maka pada kesetimbangan.
Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat pelarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur , seperti benzen, karbon tetraklorida atau kloroform. Batasan nya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbada dalam kedua fase pelarut. Prinsip  dasar lain dari ekstraksi pelarut adalah pemisahan secara komponen dari zat terlarut di dalam dua campuran pelarut yang tidak saling bercampur. Biasanya digunakan dalam kimia organik dan lain - lain. Jika zat terlarut antara dua cairan tidak saling larut, ada suatu hubungan yang tepat antara konsentrasi zat terlarut dalam kedua fasa terlarut pada keadaan kesetimbangan. Zat tersebut akan terdistribusikan atau terbagi dalam kedua pelarut tersebut berdasarkan koefisien distribusi (kurniawan ,2011).
            Proses ekstraksi (Pemisahan) itu sendiri dibagi menjadi bermacam-macam menurut asal dan bahan yang akan dipisah. Secara garis besar, ada dua macam pemisahan yaitu ektrasksi padat cair (leaching) dan ektraksi cair-cair.
A.  Ekstraksi padat-cair(leaching) adalah proses pemisahan cairan dari padatan dengan menggunakan cairan sebagai bahan pelarutnya.Metode yang digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh banyaknya zat yang larut, penyebarannya dalam padatan, sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat terlarut menyebar merata di dalam padatan, material yang dekat permukaan akan pertama kali larut terlebih dahulu. Pelarut, kemudian akan menangkap bagian pada lapisan luar sebelum mencapai zat terlarut selanjutnya, dan proses akan menjadi lebih sulit dan laju ekstraksi menjadi turun.
Biasanya proses leaching berlangsung dalam tiga tahap, yaitu:
1. Pertama perubahan fase dari zat terlarut yang diambil pada saat zat pelarut meresap masuk. 
2. Kedua terjadi proses difusi pada cairan dari dalam partikel padat menuju keluar.
3. Ketiga perpindahan zat terlarut dari padatan ke zat pelarut.

Perpindahan massa pada operasi leaching
Laju perpindahan massa di dalam rongga-rongga partikel sukar untuk diketahui karena sulitnya menentukan bentuk dari lorong tempat perpindahan terjadi. Tetapi masih mungkin dilakukan untuk menentukan laju perpindahan secara pendekatan dari partikel zat pelarut.
Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar terutama dibidang, industri bahan alami dan makanan, misalnya untuk memperolehbahan-bahan aktif dari tumbuhan atau organ-organ binatang untuk keperluan farmasi
·         gula dari umbi
·         minyak dari biji-bijian
·         kopi dari biji kopi

Alat-alat ekstraksi tak kontinu dan kontinu berikut ini biasanya merupakan bagian dari suatu instalasi lengkap, yang misalnya terdiri atas.
a. Alat untuk pengolahan awal (pengecilan ukuran, pengeringan) bahan ekstraksi.
b.ekstraktor yang sebenarnyaperlengkapan untuk memisahkan (dengan penjernihan atau penyaringan) larutan ekstrak dari rafinat (seringkali menyatu dengan ekstraktor)
c.peralatan untuk mengisolasi ekstrak atau meningkatkan konsentrasi larutan ekstrak dan memperoleh kembali pelarut (dengan cara penguapan).

1.      Ekstraktor padat-cair tak kontinu
Dalam hal yang paling sederhana bahan ekstraksi padat dicampur beberapa kali dengan pelarut segar di dalam sebuah tangki pengaduk. Larutan ekstrak yang terbentuk setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya berat) atau penyaringan (dalam sebuah alat yang dihubungkan dengan ekstraktor). Proses ini tidak begitu ekonomis, digunakan misalnya di tempat yang tidak tersedia ekstraktor khusus atau bahan ekstraksi tersedia dalam bentuk serbuk sangat halus, sehingga karena bahaya penyumbatan, ekstraktor lain tidak mungkin digunakan.
Ekstraktor yang sebenarnya adalah tangki-tangki dengan pelat ayak yang dipasang di dalamnya. Pada alat ini bahan ekstraksi diletakkan di atas pelat ayak horisontal. Dengan bantuan suatu distributor, pelarut dialirkan dari atas ke bawah. Dengan perkakas pengaduk (diatas pelat ayak) yang dapat dinaikturunkan. Pencampuran seringkali dapat disempurnakan atau rafinat dapat dikeluarkan dari tangki setelah berakhirnya ekstraksi. Ekstraktor semacam ini hanya sesuai untuk bahan padat dengan partikel yang tidak terlalu halus. Yang lebih ekonomis lagi adalah penggabungan beberapa ekstraktor yang dipasang seri dan aliran bahan ekstraksi berlawanan dengan aliran pelarut. Dalam hal ini pelarut dimasukkan kedalam ekstraktor yang berisi campuran yang telah mengalami proses ekstraksi paling banyak. Pada setiap ekstraktor yang dilewati, pelarut semakin diperkaya oleh ekstrak.
 Pelarut akan dikeluarkan dalam konsentrasi tinggi dari ekstraktor yang berisi campuran yang mengalami proses ekstraksi paling sedikit. dengan operasi ini pemakaian pelarut lebih sedikit dan konsentrasi akhir dari larutan ekstrak lebih tinggi.
Cara lain ialah dengan mengalirkan larutan ekstrak yang keluar dari pelat ayak ke sebuah ketel destilasi, menguapkan pelarut disitu, mengembunkan dalam sebuah kondenser dan segera mengalirkannya kembali ke ekstraktor untuk dicampur dengan bahan ekstraksi. Dalam ketel destilasi konsentrasi larutan ekstrak terus-menerus meningkat. dengan metode ini jumlah total pelarut yang diperlukan relatif kecil. Meskipun demikian, selalu terdapat perbedaan konsentrasi ekstrak yang maksimal antara bahan ekstraksi dan pelarut. Kerugiaanya adalah pemakaian banyak energi karena pelarut harus diuapkan secara terus-menerus.
Pada ekstraksi bahan-bahan yang peka terhadap suhu terdapat sebuah bak penampung sebagai pengganti ketel destilasi. dari bak tersebut larutan ekstrak dialirkan kedalam alat penguap vakum (misalnya alat penguap pipa atau film). Uap pelarut yang terbentuk kemudian dikondensasikan, pelarut didinginkan dan dialirkan kembali kedalam ekstraktor dalam keadaan dingin.

2.         Ekstraktor padat-cair kontinu
Cara kerja ekstraktor ini serupa dengan ekstraktor-ekstraktor yang dipasang seri, tetapi pengisian, pengumpanan pelarut dan juga pengosongan berlangsung secara otomatik penuh dan terjadi dalam sebuah alat yang sama. Oleh karena itu dapat diperoleh output yang lebih besar dengan jumlah kerepotan yang lebih sedikit. Tetapi karena biaya untuk peralatannya besar, ekstraktor semacam itu kebanyakan hanya digunakan untuk bahan ekstraksi yang tersedia dalam kuantitas besar (misalnya biji-bijian minyak, tumbuhan). Dari beraneka ragam konstruksi alat ini, berikut akan di bahas ekstraktor keranjang (bucket-wheel extractor) dan ekstraktor sabuk (belt extractor).

   2.1       Ekstraktor keranjang
Pada ekstraktor keranjang (keranjang putar = rotary extractor), bahan ekstraksi terus-menerus dimasukkan ke dalam sel-sel yang berbentuk jaring (sektor) dari sebuah rotor yang berputar lambat mengelilingi poros vertikal, Bagian bawah sel-sel ditutup oleh sebuah pelat ayak. Selama satu putaran, bahan padat dibasahi dari arah berlawanan oleh pelarut atau larutan ekstrak yang konsentrasinya meningkat, Pelarut atau larutan tersebut dipompa dari sel ke sel dan disiramkan ke atas bahan padat. Akhirnya bahan dikeluarkan dan keseluruhan proses ini berlangsung secara otomatik.
2.2       Ekstraktor sabuk
Pada ekstraktor ini, bahan ekstraksi diumpankan secara kontinu di atas sabuk ayak yang melingkar. di sepanjang sabuk bahan dibasahi oleh pelarut atau larutan ekstrak dengan konsentrasi yang meningkat dan arah aliran berlawanan. Setelah itu bahan dikeluarkan dari ekstraktor(Svehla,1985).

B. Ekstraksi cair-cair adalah proses pemindahan suatu komponen campuran cairan dari suatu larutan ke cairan yang lain (yaitu pelarutnya). Pada suatu campuran dua cairan yang saling larut, salah satu adalah sebagai zat terlarut (solute), dan yang lain adalah sebagai zat pembawanya (diluent). Jika suatu campuran dimurnikan dengan bantuan cairan ketiga, yang disebut dengan zat pelarut (solvent) dan zat pelarutnya tidak mudah larut atau larut sebagian, maka akan terbentuk dua fase lapisan. Kejadian ini menunjukkan bahwa zat pelarut larut bagian dengan zat pembawa atau dengan kedua zat pembawa dan zat terlarutnya pada temperatur tersebut. Lapisan yang kaya-zat pelarut disebut dengan fase ekstrak, dan lapisan yang lain disebut dengan fase rafinat. Setelah kondidi kesetimbangan dicapai, pada analisis akan didapatkan bahwa fase ekstrak terdiri dari zat pelarut yang jenuh dengan acuan terhadap kedua zat terlarut dan zat pembawanya, dan fase rafinat akan terdiri atas zat
Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak meninggalkan pelarut yang pertama (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut tidak saling melarut ( atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan massa yang baik –yang berarti performansi ekstraksi yang besar- haruslah diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan didistribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas pengaduk). Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali dipisahkan. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas.
Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes harus menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain. Kecepatan pembentukan fasa homogen ikut menentukan output sebuah ekstraktor cair-cair. Kuantitas pemisahan persatuan waktu dalam hal ini semakin besar jika permukaan lapisan antar fasa didalam alat semakin luas.
Sama halnya seperti pada ekstraksi padat-cair, alat ekstraksi tak kontinu dan kontinu yang akan dibahas berikut ini eringkali merupakan bagian dari suatu instalasi lengkap. Instalasi tersebut biasanya terdiri atas ekstraktor yang sebenarnya (dengan zone-zone pencampuran dan pemisahan) dan sebuah peralatan yang dihubungkan dibelakangnya (misalnya alat penguap, kolom rektifikasi) untuk mengisolasi ekstrak atau memekatkan larutan ekstrak dan mengambil kembali pelarut.
Penggunaan ekstraksi cair-cair
Ekstraksi, jika dibandingkan dengan distilasi, mempunyai banyak keuntungan, mengingat:
1.Distilasi membutuhkan panas yang besar, misalnya pada larutan dengan relative volatility sangat dekat.
2. Pemisahan pada proses distilasi akan mengalami kesulitan untuk komponen-komponen azeotrop.
3.Komponen-komponen di dalam larutan dapat rusak dalam proses pemanasan.
4. Jika komponen yamg akan dipisahkan mempunyai perbedaan sifat fisika yang kecil
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ektraksi dpakai jika proses distilasi dianggap kurang praktis atau terlalu mahal biaya operasionalnya, atau jika distilasi tidak mampu untuk memisahkannya. Ekstraksi akan lebih praktis dibanding distilasi jika relative volatility (kemampuan mudah berubahnya cairan ke bentuk gas) kedua komponen sangat dekat yaitu antara 1,0 dan 1,2, selain itu, ekstraksi cair-cair mungkin lebih ekonomis daripada distilasi atau steam stripping pada pengolahan limbah cair, jika relative volatility dari larutan terhadap air kurang dari 4.
Pada kasus lain, komponen-komponen yang akan dipisahkan mungkin sangat sensitif terhadap panas, seperti antibiotik, atau relative non-volatile, seperti garam-garam mineral, dan ekstraksi cair-cair akan memberikan biaya operasional yang minim untuk pemisahan. Bagaimanapun juga penggunaan distilasi harus dievaluasi secara lebih teliti sebelum memastikan untuk menggunakan ekstraksi cair-cair. Gambar dibawah menunjukkan perbedaan antara proses distilasi dan proses ekstraksi.Proses ektraksi biasanya menyangkut: a)ekstraksi cair-cair, b) mendapatkan pelarut kembali,c) raffinate desollventizing (penghilangan/pengambilan pelarut pada rafinat)
Sebuah contoh proses ekstraksi cair-cair dengan biaya yang ekonomis adalah mendapatkan asam asetat dari air dengan menggunakan etil eter atau etil asetat. Pelarut didapatkan kembali dengan distilasi dan rafinat dimurnikan dari pelarutnya dengan distilasi uap. Dalam beberapa hal pelarut yang dipakai mempunyai titi didih yang lebih tinggi daripada larutan.

1.      Ekstraktor cair-cair tak kontinu
Dalam hal yang paling sederhana, bahan ekstraksi yang cair dicampur berulangkali dengan pelarut segar dalam sebuah tangki pengaduk (sebaiknya dengan saluran keluar dibagian bawah). Larutan ekstrak yang dihasilkan setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya berat).
Yang konstruksinya lebih menguntungkan bagi proses pencampuran dan pemisahan adalah tangki yang bagian bawahya runcing ( yang dilengkapi dengan perkakas pengaduk, penyalur bawah, maupun kaca intip yang tersebar pada seluruh ketinggiannya).
Alat tak kontinu yang sederhana seperti itu digunakan misalnya untuk mengolah bahan dalam jumlah kecil, atau bila hanya sekali-sekali dilakukan ekstraksi. Untuk pemisahan yang dapat dipercaya antara fasa berat dari fasa ringan, sedikit-dikitnya diperlukan sebuah kaca intip pada saluran keluar dibagian bawah tangki ekstraksi. Selain itu penurunan lapisan antar fasa seringkali dikontrol secara elektronik (dengan perantaraan alat ukur konduktivitas). Secara optik (dengan bantuan detecktor cahaya batas) atau secara mekanik (dengan pelampung atau benda apung). peralatan ini mudah digabungkan dengan komponen pemblokir dan perlengkapan alarm, yang akan menghentikan aliran keluar dan atau memberikan alarm, segera setelah lapisan tersebut melampaui kedudukan tertentu. Agar fasa ringan (yang kebanyakan terdiri atas pelarut organik) tidak masuk ke dalam saluran pembuangan air, pencegahan yang lebih baik dapat dilakukan dengan memasang bak penampung (bak penyangga) di belakang ekstraktor.

2          Ekstraktor cair-cair kontinu
Operasi kontinu pada ekstraksi cair-cair dapat dilaksanakan dengan sederhana, karena tidak saja pelarut, melainkan juga bahan ekstraksi cair secara mudah dapat dialirkan dengan bantuan pompa. Dalam hal ini bahan ekstraksi berulang-kali dicampur dengan pelarut atau larutan ekstrak dalam arah berlawanan yang konsentrasinya senantiasa meningkat. Setiap kali kedua fasa dipisahkan dengan cara penjernihan. Bahan ekstraksi dan pelarut terus-menerus diumpankan ke dalam alat, sedangkan rafinat dan larutan ekstrak dikeluarkan secara kontinu.
Ekstraktor yang paling sering digunakan adalah kolom-kolom ekstraksi, di samping itu juga digunakan perangkat pencampur-pemisah (mixer-settler). Alat-alat ini terutama digunakan bila bahan ekstraksi yang harus dipisahkan berada dalam kuantitas yang besar, atau bila bahan tersebut diperoleh dari proses-proses sebelumnya secara terus-menerus(Svehla,1985).
Menurut ilmu farmasi ada beberapa faktor yang mempengaruhi ektraksi pelarut, sebagai beerikut:
1. pengembangan/pemelaran tanaman
            Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ektrasi adalah perlakuan awal tanaman yang akan diektrasi menggunakan pelarut.berikut beberapa alasannya:
a. Untuk mencegah pemelaran/pembengkakkan tanaman didalam kemasan tertutup (wadah proses ekstraksi) secara tiba-tiba. Hal ini terjadi jika pelarut yang digunakan adalah air, maka simplisia dapat memelar/membengkak 2-3 kali dari volume awal yang akan menyebabkan peledakan (pecahnya) alat ekstraksi yang mengakibatkan perlokasi tidak berlangsung dengan baik.
b. Untuk menjamin proses pembasahan secara merata dari tanaman yang akan diekstraksi, dan juga meningkatkan kontak dan aliran pelarut dalam alat ekstraksi, serta mencegah timbulnya gelembung udara penyebab timbulnya saluran udara.
c. Untuk meningkatkan porositas dinding sel yang akan mempermudah difusi zat aktif yang akan diekstraksi dari sel menuju pelarut atau penentrasi sel oleh pelarut. Pengembangan/pembengkakan bahan tanaman dalam hal ini akan menjamin permeasi pelarut, dan konsekuensinya akan menghilangkan zat terlarut didalam secara sederhana dan selektif.
2. Difusi, pH, Ukuran Partikel, dan Temperatur
 a. Difusi
Dalam mengekstraksi bahan aktif dari simplisia, pelarut harus berdifusi ke dalam sel. Dan selanjutnya zat aktif harus cukup larut dalam pelarutnya. Sehingga kesetimbangan akan tercapai antara solute dan solvent.
b.pH
pH berperan dalam selektifitas
c. Ukuran Partikel
ukuran partikel biasanya disesuaikan dengan komposisi senyawa yang akan diekstraksi. Secara umum serbuk yang lebih halus akan mudah di ekstraksi.
d. Temperatur
Temperatur dan gerakan cairan dalam proses ekstraksi akan akan mempengaruhi kesetimbangan dan mengubahnya menuju saturasi pelarut. Gerakan cairan dapat dicapai dengan membuat bahan tanaman tetap dan melakukan sirkulasi pelarut baik itu menggunakan pompa atau pengadukan mekanik.

3. Pilihan Pelarut Ekstraksi
Dalam melakukan ekstraksi zat aktif tertentu secara sempurna digunakan pelarut ideal yang mempunyai selektifitas maksimum, kapasitas terbaik ditinjau dari koefisien saturasi produk dalam medium dan kompatibel dengan sifat-sifat bahan yang diekstraksi. Parameter ini untuk setiap tanaman biasanya didapatkan dari eksperimental karena pilihan pelarut ini akan bergantung pada stabilitas senyawa yang diekstrask serta adanya kemungkinan antaraksi antara pelarut dengan zat lain yang terdapat dalam proses ekstraksi
Dalam percobaan ektraksi pelarut ada bebrapa perlakuan yang di lakukan seperti pengocokkan, Pendiaman, Membuka tutup corong pisah,Pencucian berulang kali. Pengocokkan di lakukan agar larutan benar-benar tercampur dengan baik.proses pendiaman dilakukan agar lapisan yang terbentuk dapat memisah dengan jelas dan dapat dengan mudah dipisahkan. Tutup corong sesekali dibuka bertujuan untuk mengeluarkan gas yang terbentuk secara perlahan.sedangkan pencucian berulang ulang adalah agar alat yang digunakan tetap steril dan bekas larutan lain yang menempel pada alat tersebut tidak tercampur lagi dengan larutan yang baru.
Persamaan reaksi adalah persamaan yang menunjukkan reaksi zat pereaksi (reaktan) dengan zat hasil reaksi (produk). Asam stearat yang memiliki rumus senyawa CH3(CH2)16COOH apabila dicampurkan dengan NaOH akan membentuk persamaan reaksi sebagai berikut:
CH3(CH2)16COOH + NaOH                          CH3(CH12 )16 COONa+ H2O

            Pada hasil percobaan diperoleh kadar asam stearat  pada PE adalah 33,27% sedangkan pada alkohol 0,23%. Asam astearat pada alkohol jauh lebih besar dari pada pada PE.
            Sabun adalah garam alkali karboksilat (RCOONa) dimana gugus R bersifat hidrofobik karena bersifat nonpolar dan COONa bersifat hidrofilik karena bersifat polar. Molekul sabun terdiri dari bagian kepala yang disebut gugus hidrofilik dan bagian ekor yang disebut gugus hidrofobik. Molekul sabun tersusun dari gugus alkali yang bersifat nonpolar dan ion karboksilat yang bersifat  polar. Bagian nonpolar akan larut dalam minyak, sedangkan bagian polar akan larut dalam air. Prinsip terssebut menyebabkan sabun memiliki daya pembersih. Keetika mandi dengan menggunakan sabu, gugus nonpolar dari sabun akan menempel pada kotoran dan bagian polarnya akan menempel pada air.
            Asam stearate adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat,C18H36O2 dan asam heksakanoat C16H32O2 (Ditjen POM,1979).
            PE (petroleum eter) adalah bahan pelarut lemak nonpolar yang paling banyak digunakan karena harganya relative murah, kurang berbahaya terhadap resiko kebakaran dan ledakan, serta lebih selektif untuk lemak nonpolar. Petroleum eter bukan merupakan eter seperti dietil etel, namun sejenis hidrokarkon ringan (Williamson,2011)
            Asam lemak ini merupakan asam lemak jenuh, wujudnya padat pada suhu ruang. Asam stearate diproses dengan memperlakukan lemak hewan dengan air pada suhu dan tekanan tinggi. Asam ini dapat p[ula diperoleh dari hidrogenasi minyak nabati. Dalam bidang industry aasam sterat sebagai bahan pembuatan lilin,sabun,plastic, kosmetika, dan untuk melunakan karet( Anonima,2010).



                                    IV. KESIMPULAN

1.      kadar asam stearat pada eter adalah 0,23% sedangkan kadar asam stearat pada alkohol adalah 33,27 %
2.      Ektraksi pelarut adalah  suatu proses pemisahan subtansi atau zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai.
3.      Asam stearat direaksikan dengan NaOH membentuk persamaan reaksi seeperti berikut: CH3(CH2)16COOH + NaOH                    CH3(CH12 )16 COONa+ H2O
4.      Ada tiga metode dasar ektraksin cair-cair adalah ektrasi bertahap, ektraksi kontinu dan ektraksi counter current.
5.      Hasil perubahan setelah titrasi (PE) sebelum titrasi dengan volume 30 ml setelah titrasi volume menjadi 0,2 ml, warna sebelum titrasi berwarna bening ketika sesudah titrasi menjadi warna pink.
6.      Hasi perubahan setelah titrasi (alkohol) sebelum titrasi dengan volume20 ml namun setelah titrasi menjadi 19,8 ml. Warna sebelum titrasi bwning setelah titrasi menjadi warna pink.
7.      Ketika PE dan larutan sabun ditambahkan dengan NaCl jenuh, dikocok dan didiamkan terjadi 2 lapisan yang terbentuk yaitu lapisan PE dan lapisan sabun menjadi terpisah.





V. DAFTAR PUSTAKA

Fakultas farmasi,2011 ektraksi larutan. Famasi.unand.ac.id/RPKPS/yang_memepengaruhi_ektraksi_pdf (7 oktober 2014
Arsyad, M. N. 1997. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta.
Underwood,A.L.,dan Day A. R. 1990. Analisis Kimia Kuantitaif. Edisi 5. Erlanga. Jakarta
Harper dan Row. 1980. Kimia Untuk Universitas. Edisi 6. Erlangga: Jakarta
Khopar, S.M. 2008. Konsep Kimia Analitik. UI-pres, Jakarta
Merah,K.2013. pengaruh Jenis Pelarut dan Variasi. Jurnal Teknosains Pangan. 2 (1) : 3-5
Munaroh,S. 2010. Ektraksi Minyak Daun Jeruk Purut( Citrus hystrix D.C) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana. Jurnal Kompetensi Teknik. 2 (1) :74-77
Andaka, G. 2009 . Optimasi Proses Minyak Kacang Tanah. Jurnal Teknologi sains dan farmakologi. 2 (1) :80-88

Tidak ada komentar:

Posting Komentar