Kamis, 13 November 2014
Dayak Di Ambang Modernisasi
Dayak diambang modernisasi, kita tahu sekarang banyak sekali suku dayak
yang khususnya mendiami pulau kalimanatan kini sudah memasuki
modernisasi dalam kehidupan sehari-harinya, kita tau bahwa hal tersebut
dikarenakan seiring berkembangnya zaman dan globalisasi. mengapa dikatakan demikian, menurut hasil pengamatan saya sendiri dilihat dari kehidupan sehari-hari, budaya dan hidup berkelompok mereka. dulunya yang saya tahu bahwa orang suku Dayak sangat utuh dengan namanya hidup saling gotong royong kini saking berkembangnya dan majunya teknologi semuanya kini hanya dipakai sebagaian kelompok saja. dalam tata acara adat banyak sekali suku dayak yang kini mulai perlahan lahan meninggalkan adat istiadatnya, bahkan banyak suku dayak yang saya ketahui tidak bisa berbahasa dayaknya sendiri, contohnya suku dayak itu banyak sekali sub suku yang lain seperti dayak Iban, Dayak Tamambalo, Dayak Kaya'an, Dayak Punan, dan sebagainya. seperti yang kita lihat sekarang banyak anak-anak yang dikatakan sebagai generasi baru, bahkan yang dulunya dimaksudkan bahwa anak itu sebagai penerus generasi,tetapi kini malah anak yang dimksud bahkan tidak tahu sama sekali tentang kebudayaan sukunya sendiri, dalam hal kecil saja banyak anak yang tidak diajarkan oleh orang tuanya bahasa ibunya. dalam hal berkelompok suku dayak identik dengan rumah BETANG atau rumah PANJANG, banyak sekali kini kelompok-kelompok suku dayak tidak lagi mendiami rumah betang sebagai rumahnya, hanya saja yang mendiami tersebut adalah mereka yang masih di pedalaman pulau kalimantan, dilihat dari busana adat dan suku masing masing, kini busana adat dayak saja sudah tidak seperti dulu lagi banyak kostum-kostum dayak yang dikreaksikan sehingga kultur dan kekentalan dayak yang tertanam dalam kostum perlahan-lahan pudar. dalam hal ukiran dayak ukiran tersebut yang dinamakan TURAI DAYAK kini sudah tidak seperti dulu lagi yang saya tahu bahwa turai tersebut diukirkan itu ada makna nya sendiri tapi kini orang-orang tidak lagi memperdulikan itu. GAYU GURU GERAI NYAMAI
MORAL HIDUP
Nama
: Konstansius Liam Sulung
NPM : 140801552
MORAL HIDUP
1.
Awal
Hidup Seorang Manusia
Ada
tiga pendapat yang mempunyai argumentasi kuat, sehingga sulit kita tentukan
manakah pendapat yang paling sesuai dengan kebenaran. Pendapat pertama
menyatakan bahwa hidup seorang manusia dimulai sejak terbentuknya sel sperma
hasil pertemuan sperma suami dan sel telur istri. Pendapat kedua menyatakan
bahwa hidup seorang seorang manusia barulah mulai sekitar 11 hari setelah
pembuahan, yakni ketika mulai muncul individualitas yang jelas, ketika kumpulan
sel-sel itu tidak mungkin lagi terpisah menjadi beberapa anak kembar. Pendapat
ketiga menyatakan bahwa hidup khas manusia barulah muncul ketika embrio berusia
sekitar 20-40 hari,yakni bila embrio itu sudah berhasil membentuk otak dalam
dirinya.
Pendapat
pertama memberikan beberapa alasan yang cukup kuat. Alasan pertama adalah
kenytaan bahwa sel sperma hasil pembuahan itu sungguh sudah hidup, mampu
berkembang dengan kekuatan sendiri. Alasan kedua sel yang hidup itu sudah dapat
dikatakan manusia karena memuat jumlah kromosom yang biasa termuat dalam
sel-sel manusia yang normal. Pendapat kedua menyampaikan kritik atas pndangan
diatas. Ditunjukkan bahwa sel pertama itu masih mudah mati secara spontan
(rupanya sampai 50% sebelum berusia 1 minggu). Manusia berciri individual,
artinya unik, tak terbagikan menjadi dua atau tiga manusia. Sel pertama masih
dapat berkembang menjadi beberapa kelompok sel, yang kemudia menjadi beberapa
janin kembar (disebut kembar 1 telur). Para ahliberpendapat bahwa sel-sel
sperma pertama itu barulah layak disebutmanusia setelah mencapai taraf
individualitas yang tetap, sehingga tak dapat dipecah lagi menjadi beberapa
janin kembar.
Pendapat
ketiga yakni ketika embrio sudah mulai memiliki otak dalam dirinya. Alasan
pertama lebih bercorak filosofis, yakni bahwa manusia berbeda dari makhluk ciptaan
lainnya karena kekampuan mental dan spiritualnya. Alasan kedua yakni bahwa
janin yang tidak berhasil membentuk otak dalam dirinya ternya akan mati dengan
sendirinya.
2.
Usaha
Pencegahan Kehamilan
Penceghan
kehamilan atau pencegahan kelahiran, harus dibedakan antara usaha kontrasepsi
dan birth control. Yang pertama-tama perlu digaris bawahi ialah pentingnya
motivasi yang benar dari suami-istri dalam mencegah kehamilan. Motivasi itu
selayaknya tidak diwarnai oleh egoisme atau materialisme, malainkan oleh rasa
tanggung jawab sosial yang tinggi. Pencegahan kehamilan dengan pantang berkala,
alasannya cara itu menghormati sepenuhnya tubuh wanita. Cara itu memacu suami
dan istri untuk bekerja sama dalam mensukseskan usaha pencegahan kehamilan
secara berdua, karena suami juga perlu terus-menerus berdialog dan belajar
semakin mengenal keadaan istrinya dan melatih suami dan istri mengatur hawa
nafsu seksual.
Kondom,
pessarium atau dutch cap dan obat-obat pembunuh sperma mempunyai cara kerja
yang sama,yakni mencegah masuknya sperma suami kedalam rahim dan saluran telur
istri.Cara pencegahan kehamilan yang masih menimbulkan perbedaan pendapat
adalah pemandulan dan penggunaan spiral. Pemandulan merupakan invervensi medis
yang tidak bersifat menyepurnakan kondisi fisik, melainkan justru mengubah
kondisi fisik yang sebenarnya normal. Penggunaan spiral ditentang oleh cukup
banyak moralis karena memungkinkan efek abortifnya.
3.
Pengadaan
Anak Secara Buatan
Kemajuan
teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk mencegah kehamilan, melainkan juga
untuk menggadakan anak buatan, artinya tanpa hubungan seks antara suami-istri.
Cara pertama adalah inseminasi yaitu dengan memasukkan sperma kedalam rahim
wanita ketika sedang masa subur. Cara kedua adalah bayi tabung caranya sel-sel
telur diambil dari saluran telur lalu masing-masing dimasukkan kedalam sebuah
tabung, tabung itu dimasukkan pula sperma suami setelah beberapa hari akan
tampaklah muncul embrio dalam beberapa tabung. Sekitar 3 embrio yang paling
baik dimasukkan kedalam rahim ibu.
Dengan
cara ectogenesis caranya ialah dengan pembuahan dan pengembangan janin
seluruhnya dalam tabung. Setelah dihasilkan embrio yang baik dengan cara
pembuahan dalam tabung fertilisasi, embrio dipindahkan dalam tabung yang lebih
besar yang dapat diharapkan dapat berfungsi sebagai rahim buatan. Dengan cara
Cloning caranya ialah dimaksudkan sebagai usaha untuk mendapatkan anak tanpa
sperma pria sama sekali. Memberi rangsangan pada sel telur dengan
harapanmemebelah diri terus menerus.
4.
Pemeliharaan
Kehidupan Dalam Rahim
Sejak
pembuahan atau paling lambat setelah embrio berhasil membentuk otak pada hari
ke 20-40 hidup manusia baru itu harus dilindungi. Dengan amniocentesis yang
dilakukan oleh tenaga medis, ibu-ibu dapat mengetahui keadaan janin dikandungan
dengan lebih tepat. Amniocentensis tidak boleh diapakai untuk usaha
pengguguran. Usaha pengguguran karena motivasi egolistis dan materialistis.
5.
Pemelihraan
Kehidupan
Sejak
lahir,bahkan sudah dalam kandungan manusia dapat hidup dengan baik apabila ia
sehat. Usaha memelihara kehidupan,kita wajib memelihara dan kehidupan sesama
dengan usaha-usaha yang sesuai dengan kemampuan kita. Dengan memelihara
kehidupan kita, kita juga wajib mencegah penyakit dan rasa sakit, hal yang
dilakukan imunisasi, pemebersihan lingkungan hidup dan menghindari kebiasan
buruk (merokok,miras, narkoba dan sebagainya). Akhirnya kita sadari bahwa
kesehatan manusiaitu sangat lah penting.
6.
Menghayati
Akhir Hidup
Betapapun
orang menjaga kesehatan dan mencegah segala penyakit, akhirnya ia juga akan
mati. Tapi kapankah manusia layak dikatakan mati? Secara sederhana orang
menyebut kematian saat orang menghembuskan nafas terakhir dan jantung berhenti
berdetak. Secara ilmiah menyebut norma kematian saat berhentinya fungsi otak.
Kematian otak itu dapat dipastikan dengan alat pencatat fungsi otak. Euthanasia
lansung artinya penghentian kehidupan secara sengaja karena belas kasihan.
Euthanasia tidak langsung usaha yang akhirnya mengakibatkan atau mendekatkan
kematian walaupun sebenarnya sama sekali tidak dikehendaki.
orang
yang menderita sakit yang tak tersembuhkan membutuhkan pendampingan yang penuh
pengertian dan kesabaran. Karena itu, ia perlu ditemani sehingga secara bertahap
ia akhirnya mau menyerah pada kehendak Tuhan. Kematian emang mengerika bagi
siapa pun, tetapi bila kenyataan itu pun diterima, orang akan dapat
menghadapinya dengan lebih tenang.
Rabu, 12 November 2014
laporan Ektraksi Pelarut
nama: Konstansius Liam Sulung
Teknobiologi Atma Jaya Yogyakarta, 2014
CH3(CH2)16COOH
+ NaOH CH3(CH12
)16 COONa+ H2O
Teknobiologi Atma Jaya Yogyakarta, 2014
I.PENDAHULUAN
A.
Judul percobaan
Ekstraksi pelarut
B.
Tujuan percobaan
1. Mengenal metode pemisahan kimia
2. Mengetahui kadar asam stearat
didalam suau larutan
II. METODE
A.
Alat dan Bahan
·
Alat:
a.
corong
b.
corong pemisah
c.
Gelas ukur
d.
Gelas beker
e.
Pro pipet
f.
Pipet ukur
g.
Pipet tetes
h.
Buret
i.
Satatif
j.
Klem
·
Bahan:
a.
PE (Petroleum Eter)
b.
Sabun
c.
NaCl jenuh
d.
H2O
e.
Indikator PP
f.
Alkohol
g.
NaOH
B.
Cara Kerja
Larutan sabun sebanyak 20 ml
dimasukkan kedalam corong pemisah kemudaian setelah itu ditambahkan dengan
Petroleum Eter (PP) sebanyak 10 ml. kemudian corong pemisah digoyang-goyangkan
dalam keadaan tertutup namun, sesekali tutup corong dibuka untung membuang gas
yang ada didalam corong tersebut. Goyangkan terus corong pemisah tersebut
sampai tidak ada lagi gas yang keluar.
Setelah tidak ada lagi gas yang
keluar,cairan dilihat apakah terjadi emulsi atau tidak,jika emulsi tidak
terjadi bisa di ulangi dari awal. Namun, apabila emulsi tersebut terjadi maka
ditambahkan NaCl jenuh sebanyak 5 ml.kemudian kocok lagi corong pemisah kurang
lebih 10 menit sampai larutan tercampur dan tidak ada gas yang keluar lagi.
Kemudian corong pemisah didiamkan sampai terbentuknya dua lapisahn. Lapisan
atas berupa PE sedangkan lapisan bawah berupa air sabun. Lapisan air sabun
dikeluarkan melalui corong pemisah dan ditampung didalam gelas beker,Sedangkan
PE ditampung ditampung kedalam erlenmeyer. Percobaan terssebut dapat diulangi
sebanyak tiga kali dengan masing-masing pengulangan ditambah dengan PE yang
baru dengan volume yang sama.
Larutan PE yang tertampung didalam
erlenmeyer kemudian dimasukan lagi kedalam corong pemisah dan ditambahkan
dengan air sebanyak 10 ml serta 2 tetes indikator PP. corong pemisah dikocok
sampai larutan tercampur lalau larutan didiamkan dan sampai terbentuk dua
lapisan. Lapisan air dibuang . penambahan air dan indikator dilakukan terus
menerus sampai larutan tidak lagi bersifat basa dengan ditandai warna bening
pada larutan.
Larutan PE yang terdapat didalam
erlenmeyer kemudian ditambah dengan 2 tetes PP dan dititrasi dengan NaOH dengan
konsentrasi 0,01 N sampai warna menjadi pink. Perlakuan yang sama dilakukan
juga pada alkohol. Setelah proses titrasi selesai,hitung kadar asam lemak dalam
sdabun sebagai asam stearat dengan menggunakan rumus :
%
as.stearat = Vol pengenceran sabun
x N NaOH x V NaOH x BM stearat volume
PE+ vol alkohol x 100% berat
sabun
III.HASIL
DAN PEMBAHSAN
A. Tabel Hasil
Tabel 1. Hasil
Ekstraksi Pelarut
|
NO
|
Vol sabun
|
Vol. PE
|
Berat sabun
|
Vol. alkohol
|
Vol. NaOH
|
% asam stearat
|
|
|
1
|
400 ml
|
30 ml
|
3300 mg
|
20 ml
|
20 ml
|
33,27 %
|
0,23 %
|
|
2
|
400 ml
|
30 ml
|
3300 mg
|
20 ml
|
0,2 ml
|
alkohol
|
PE
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tabel 2. Hasil
perubahan setelah titrasi (PE)
|
Perubahan
|
Sebelum
|
Sesudah
|
|
Warna
|
Bening
|
Pink
|
|
Volume
|
30 ml
|
O,2 ml
|
Tabel 3. Hasil
perubahan setelah titrasi (alkohol)
|
Perubahan
|
Sebelum
|
Sesudah
|
|
Warna
|
Bening
|
Pink
|
|
Volume
|
20 ml
|
19,8 ml
|
B
.Pembahasan
Ektraksi pelarut adalah suatu proses pemisahan subtansi atau zat dari
campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Pelarut yang digunakan
harus dapat mengekstrak subtansi yang diinginkan tanpa melarutkan material
lainnya. Ektraksi pelarut adalah teknik pemisahan diamana larutan didalam
air,dibiarkan berhubungan dengan pelarut lain, dengan syarat bahwa pelarut
kedua ini tidak bercampur dengan pelarut pertama. Dapat pula dikatakan bahwa ektraksi
pelarut adalah teknik pemisahan menyangkut distribusi suatu zat terlarut
diantara dua fase cair yang tidak saling bercampur( Underwood,1990).
Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat pelarut
dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling
bercampur , seperti benzen, karbon tetraklorida atau kloroform. Batasan nya
adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbada dalam kedua fase
pelarut. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran
berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi
pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejmlah gugus yang diinginkan dan
mungkin merupakan gugs pengganggu dalam analisis secara keseluruhan.
Kadang-kadang gugus-gugs pengganggu ini diekstraksi secara selektif(
Arsyad,2001).
Prinsip
metode ini dinyatakan dalam hukum-hukum seperti:
a. Hukum fase Gibb’s menyatakan bahwa :
P + V = C + 2
Keterangan : P = fase
C = Komponen
V = Derjat kebebasan
Pada ekstraksi pelarut , kita mempunyai P = 2 , yaitu
fase air dan organik, C= 1, yaitu zat terlarut di dalam pelarut dan fase air
pada temperatur dan tekanantetap, sehingga V = 1, jadi kita akan dapat :
2 + 1 = 1+2, yaitu P + V =
C + 2
b. Menurut Hukum distribusi Nernst :
Jika [X1] adalah kosentrasi zat terlarut dalam
fase 1 dan [X2] adalah kosentrasi zat terlarut dalam fase 2, maka
pada kesetimbangan,
P + V = C + 2
Keterangan : P = fase
C = Komponen
V = Derjat kebebasan
Pada ekstraksi pelarut , kita mempunyai P = 2 , yaitu
fase air dan organik, C= 1, yaitu zat terlarut di dalam pelarut dan fase air
pada temperatur dan tekanantetap, sehingga V = 1, jadi kita akan dapat :
2 + 1 = 1+2, yaitu P + V =
C + 2
Menurut Hukum distribusi Nernst :
Jika [X1] adalah kosentrasi zat terlarut dalam
fase 1 dan [X2] adalah kosentrasi zat terlarut dalam fase 2, maka
pada kesetimbangan.
Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat pelarut
dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur ,
seperti benzen, karbon tetraklorida atau kloroform. Batasan nya adalah zat
terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbada dalam kedua fase pelarut.
Prinsip dasar lain dari ekstraksi pelarut
adalah pemisahan secara komponen dari zat terlarut di dalam dua campuran
pelarut yang tidak saling bercampur. Biasanya digunakan dalam kimia organik dan
lain - lain. Jika zat terlarut antara dua cairan tidak saling larut, ada suatu
hubungan yang tepat antara konsentrasi zat terlarut dalam kedua fasa terlarut
pada keadaan kesetimbangan. Zat tersebut akan terdistribusikan atau terbagi
dalam kedua pelarut tersebut berdasarkan koefisien distribusi (kurniawan
,2011).
Proses
ekstraksi (Pemisahan) itu sendiri dibagi menjadi bermacam-macam menurut asal
dan bahan yang akan dipisah. Secara garis besar, ada dua macam pemisahan yaitu
ektrasksi padat cair (leaching) dan ektraksi cair-cair.
A.
Ekstraksi padat-cair(leaching)
adalah proses pemisahan cairan dari padatan dengan menggunakan cairan sebagai
bahan pelarutnya.Metode yang digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh
banyaknya zat yang larut, penyebarannya dalam padatan, sifat padatan dan
besarnya partikel. Jika zat terlarut menyebar merata di dalam padatan, material
yang dekat permukaan akan pertama kali larut terlebih dahulu. Pelarut, kemudian
akan menangkap bagian pada lapisan luar sebelum mencapai zat terlarut
selanjutnya, dan proses akan menjadi lebih sulit dan laju ekstraksi menjadi
turun.
Biasanya proses leaching berlangsung dalam tiga
tahap, yaitu:
1. Pertama
perubahan fase dari zat terlarut yang diambil pada saat zat pelarut meresap
masuk.
2.
Kedua terjadi proses difusi pada cairan dari dalam partikel padat menuju
keluar.
3. Ketiga
perpindahan zat terlarut dari padatan ke zat pelarut.
Perpindahan massa pada operasi leaching
Laju perpindahan massa di dalam rongga-rongga
partikel sukar untuk diketahui karena sulitnya menentukan bentuk dari lorong
tempat perpindahan terjadi. Tetapi masih mungkin dilakukan untuk menentukan
laju perpindahan secara pendekatan dari partikel zat pelarut.
Pada ekstraksi padat-cair,
satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan padat dengan
bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar
terutama dibidang, industri bahan alami dan makanan, misalnya untuk memperoleh, bahan-bahan aktif dari tumbuhan atau organ-organ binatang
untuk keperluan farmasi
·
gula
dari umbi
·
minyak
dari biji-bijian
·
kopi
dari biji kopi
Alat-alat ekstraksi tak
kontinu dan kontinu berikut ini biasanya merupakan bagian dari suatu instalasi
lengkap, yang misalnya terdiri atas.
a. Alat
untuk pengolahan awal (pengecilan ukuran, pengeringan) bahan ekstraksi.
b.ekstraktor yang
sebenarnyaperlengkapan untuk memisahkan (dengan penjernihan atau penyaringan)
larutan ekstrak dari rafinat (seringkali menyatu dengan ekstraktor)
c.peralatan
untuk mengisolasi ekstrak atau meningkatkan konsentrasi larutan ekstrak dan
memperoleh kembali pelarut (dengan cara penguapan).
1. Ekstraktor padat-cair tak kontinu
Dalam hal yang paling
sederhana bahan ekstraksi padat dicampur beberapa kali dengan pelarut segar di
dalam sebuah tangki pengaduk. Larutan ekstrak yang terbentuk setiap kali
dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya berat) atau penyaringan
(dalam sebuah alat yang dihubungkan dengan ekstraktor). Proses ini tidak begitu
ekonomis, digunakan misalnya di tempat yang tidak tersedia ekstraktor khusus
atau bahan ekstraksi tersedia dalam bentuk serbuk sangat halus, sehingga karena
bahaya penyumbatan, ekstraktor lain tidak mungkin digunakan.
Ekstraktor yang sebenarnya
adalah tangki-tangki dengan pelat ayak yang dipasang di dalamnya. Pada alat ini bahan ekstraksi diletakkan di atas pelat
ayak horisontal. Dengan bantuan
suatu distributor, pelarut dialirkan dari atas ke bawah. Dengan perkakas
pengaduk (diatas pelat ayak) yang dapat dinaikturunkan. Pencampuran seringkali
dapat disempurnakan atau rafinat dapat dikeluarkan dari tangki setelah
berakhirnya ekstraksi. Ekstraktor semacam ini hanya sesuai untuk bahan padat
dengan partikel yang tidak terlalu halus. Yang lebih ekonomis lagi adalah
penggabungan beberapa ekstraktor yang dipasang seri dan aliran bahan ekstraksi
berlawanan dengan aliran pelarut. Dalam hal ini pelarut dimasukkan kedalam
ekstraktor yang berisi campuran yang telah mengalami proses ekstraksi paling
banyak. Pada setiap ekstraktor yang dilewati, pelarut semakin diperkaya oleh
ekstrak.
Pelarut akan dikeluarkan dalam konsentrasi tinggi
dari ekstraktor yang berisi campuran yang mengalami proses ekstraksi paling
sedikit. dengan operasi ini pemakaian pelarut lebih sedikit dan konsentrasi
akhir dari larutan ekstrak lebih tinggi.
Cara lain ialah dengan mengalirkan larutan ekstrak yang
keluar dari pelat ayak ke sebuah ketel destilasi, menguapkan pelarut disitu,
mengembunkan dalam sebuah kondenser dan segera mengalirkannya kembali ke
ekstraktor untuk dicampur dengan bahan ekstraksi. Dalam ketel destilasi
konsentrasi larutan ekstrak terus-menerus meningkat. dengan metode ini jumlah
total pelarut yang diperlukan relatif kecil. Meskipun demikian, selalu terdapat
perbedaan konsentrasi ekstrak yang maksimal antara bahan ekstraksi dan pelarut.
Kerugiaanya adalah pemakaian banyak energi karena pelarut harus diuapkan secara
terus-menerus.
Pada ekstraksi bahan-bahan yang peka terhadap suhu terdapat
sebuah bak penampung sebagai pengganti ketel destilasi. dari bak tersebut
larutan ekstrak dialirkan kedalam alat penguap vakum (misalnya alat penguap
pipa atau film). Uap pelarut yang terbentuk kemudian dikondensasikan, pelarut
didinginkan dan dialirkan kembali kedalam ekstraktor dalam keadaan dingin.
2.
Ekstraktor padat-cair kontinu
Cara kerja ekstraktor ini serupa dengan
ekstraktor-ekstraktor yang dipasang seri, tetapi pengisian, pengumpanan pelarut
dan juga pengosongan berlangsung secara otomatik penuh dan terjadi dalam sebuah
alat yang sama. Oleh karena itu dapat diperoleh output yang lebih besar dengan
jumlah kerepotan yang lebih sedikit. Tetapi karena biaya untuk peralatannya
besar, ekstraktor semacam itu kebanyakan hanya digunakan untuk bahan ekstraksi
yang tersedia dalam kuantitas besar (misalnya biji-bijian minyak, tumbuhan).
Dari beraneka ragam konstruksi alat ini, berikut akan di bahas ekstraktor
keranjang (bucket-wheel extractor) dan ekstraktor sabuk (belt extractor).
2.1
Ekstraktor
keranjang
Pada ekstraktor keranjang (keranjang putar = rotary
extractor), bahan ekstraksi terus-menerus dimasukkan ke dalam sel-sel yang
berbentuk jaring (sektor) dari sebuah rotor yang berputar lambat mengelilingi
poros vertikal, Bagian bawah sel-sel ditutup oleh sebuah pelat ayak. Selama
satu putaran, bahan padat dibasahi dari arah berlawanan oleh pelarut atau
larutan ekstrak yang konsentrasinya meningkat, Pelarut atau larutan tersebut
dipompa dari sel ke sel dan disiramkan ke atas bahan padat. Akhirnya bahan
dikeluarkan dan keseluruhan proses ini berlangsung secara otomatik.
2.2 Ekstraktor sabuk
Pada ekstraktor ini, bahan ekstraksi diumpankan secara
kontinu di atas sabuk ayak yang melingkar. di sepanjang sabuk bahan dibasahi
oleh pelarut atau larutan ekstrak dengan konsentrasi yang meningkat dan arah
aliran berlawanan. Setelah itu bahan dikeluarkan dari ekstraktor(Svehla,1985).
B.
Ekstraksi cair-cair adalah proses
pemindahan suatu komponen campuran cairan dari suatu larutan ke cairan yang
lain (yaitu pelarutnya). Pada suatu campuran dua cairan yang saling larut,
salah satu adalah sebagai zat terlarut (solute), dan yang lain adalah sebagai
zat pembawanya (diluent). Jika suatu campuran dimurnikan dengan bantuan cairan
ketiga, yang disebut dengan zat pelarut (solvent) dan zat pelarutnya tidak
mudah larut atau larut sebagian, maka akan terbentuk dua fase lapisan. Kejadian
ini menunjukkan bahwa zat pelarut larut bagian dengan zat pembawa atau dengan
kedua zat pembawa dan zat terlarutnya pada temperatur tersebut. Lapisan yang
kaya-zat pelarut disebut dengan fase ekstrak, dan lapisan yang lain disebut
dengan fase rafinat. Setelah kondidi kesetimbangan dicapai, pada analisis akan
didapatkan bahwa fase ekstrak terdiri dari zat pelarut yang jenuh dengan acuan
terhadap kedua zat terlarut dan zat pembawanya, dan fase rafinat akan terdiri
atas zat
Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu
ekstrak meninggalkan pelarut yang pertama (media pembawa) dan masuk ke dalam
pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi
dan pelarut tidak saling melarut ( atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar
terjadi perpindahan massa yang baik –yang berarti performansi ekstraksi yang
besar- haruslah diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di
antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan didistribusikan
menjadi tetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas pengaduk). Tentu
saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan menyebabkan
terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali dipisahkan.
Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting
perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal
ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat mungkin segera
disingkirkan dari bidang batas.
Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi
menjadi tetes-tetes harus menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan
berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan dari cairan
yang lain. Kecepatan pembentukan fasa homogen ikut menentukan output sebuah
ekstraktor cair-cair. Kuantitas pemisahan persatuan waktu dalam hal ini semakin
besar jika permukaan lapisan antar fasa didalam alat semakin luas.
Sama halnya seperti pada ekstraksi padat-cair, alat
ekstraksi tak kontinu dan kontinu yang akan dibahas berikut ini eringkali
merupakan bagian dari suatu instalasi lengkap. Instalasi tersebut biasanya
terdiri atas ekstraktor yang sebenarnya (dengan zone-zone pencampuran dan
pemisahan) dan sebuah peralatan yang dihubungkan dibelakangnya (misalnya alat
penguap, kolom rektifikasi) untuk mengisolasi ekstrak atau memekatkan larutan
ekstrak dan mengambil kembali pelarut.
Penggunaan ekstraksi cair-cair
Ekstraksi, jika dibandingkan dengan distilasi,
mempunyai banyak keuntungan, mengingat:
1.Distilasi membutuhkan panas yang besar, misalnya
pada larutan dengan relative volatility sangat dekat.
2. Pemisahan pada proses distilasi akan
mengalami kesulitan untuk komponen-komponen azeotrop.
3.Komponen-komponen di dalam larutan dapat rusak
dalam proses pemanasan.
4. Jika komponen yamg akan dipisahkan mempunyai
perbedaan sifat fisika yang kecil
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ektraksi
dpakai jika proses distilasi dianggap kurang praktis atau terlalu mahal biaya
operasionalnya, atau jika distilasi tidak mampu untuk memisahkannya. Ekstraksi
akan lebih praktis dibanding distilasi jika relative volatility (kemampuan
mudah berubahnya cairan ke bentuk gas) kedua komponen sangat dekat yaitu antara
1,0 dan 1,2, selain itu, ekstraksi cair-cair mungkin lebih ekonomis daripada
distilasi atau steam stripping pada pengolahan limbah cair, jika relative
volatility dari larutan terhadap air kurang dari 4.
Pada kasus lain, komponen-komponen yang akan
dipisahkan mungkin sangat sensitif terhadap panas, seperti antibiotik, atau
relative non-volatile, seperti garam-garam mineral, dan ekstraksi cair-cair
akan memberikan biaya operasional yang minim untuk pemisahan. Bagaimanapun juga
penggunaan distilasi harus dievaluasi secara lebih teliti sebelum memastikan
untuk menggunakan ekstraksi cair-cair. Gambar dibawah menunjukkan perbedaan
antara proses distilasi dan proses ekstraksi.Proses ektraksi biasanya
menyangkut: a)ekstraksi cair-cair, b) mendapatkan pelarut kembali,c) raffinate
desollventizing (penghilangan/pengambilan pelarut pada rafinat)
Sebuah contoh proses ekstraksi cair-cair dengan
biaya yang ekonomis adalah mendapatkan asam asetat dari air dengan menggunakan
etil eter atau etil asetat. Pelarut didapatkan kembali dengan distilasi dan
rafinat dimurnikan dari pelarutnya dengan distilasi uap. Dalam beberapa hal
pelarut yang dipakai mempunyai titi didih yang lebih tinggi daripada larutan.
1. Ekstraktor cair-cair tak kontinu
Dalam hal yang paling sederhana, bahan ekstraksi yang
cair dicampur berulangkali dengan pelarut segar dalam sebuah tangki pengaduk
(sebaiknya dengan saluran keluar dibagian bawah). Larutan ekstrak yang
dihasilkan setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya
berat).
Yang konstruksinya lebih menguntungkan bagi proses
pencampuran dan pemisahan adalah tangki yang bagian bawahya runcing ( yang
dilengkapi dengan perkakas pengaduk, penyalur bawah, maupun kaca intip yang
tersebar pada seluruh ketinggiannya).
Alat tak kontinu yang sederhana seperti itu digunakan
misalnya untuk mengolah bahan dalam jumlah kecil, atau bila hanya sekali-sekali
dilakukan ekstraksi. Untuk pemisahan yang dapat dipercaya antara fasa berat
dari fasa ringan, sedikit-dikitnya diperlukan sebuah kaca intip pada saluran
keluar dibagian bawah tangki ekstraksi. Selain itu penurunan lapisan antar fasa
seringkali dikontrol secara elektronik (dengan perantaraan alat ukur konduktivitas).
Secara optik (dengan bantuan detecktor cahaya batas) atau secara mekanik
(dengan pelampung atau benda apung). peralatan ini mudah digabungkan dengan
komponen pemblokir dan perlengkapan alarm, yang akan menghentikan aliran keluar
dan atau memberikan alarm, segera setelah lapisan tersebut melampaui kedudukan
tertentu. Agar fasa ringan (yang kebanyakan terdiri atas pelarut organik) tidak
masuk ke dalam saluran pembuangan air, pencegahan yang lebih baik dapat
dilakukan dengan memasang bak penampung (bak penyangga) di belakang ekstraktor.
2
Ekstraktor cair-cair kontinu
Operasi kontinu pada ekstraksi cair-cair dapat
dilaksanakan dengan sederhana, karena tidak saja pelarut, melainkan juga bahan
ekstraksi cair secara mudah dapat dialirkan dengan bantuan pompa. Dalam hal ini
bahan ekstraksi berulang-kali dicampur dengan pelarut atau larutan ekstrak
dalam arah berlawanan yang konsentrasinya senantiasa meningkat. Setiap kali
kedua fasa dipisahkan dengan cara penjernihan. Bahan ekstraksi dan pelarut
terus-menerus diumpankan ke dalam alat, sedangkan rafinat dan larutan ekstrak
dikeluarkan secara kontinu.
Ekstraktor yang paling sering digunakan adalah
kolom-kolom ekstraksi, di samping itu juga digunakan perangkat
pencampur-pemisah (mixer-settler). Alat-alat ini terutama digunakan bila bahan
ekstraksi yang harus dipisahkan berada dalam kuantitas yang besar, atau bila
bahan tersebut diperoleh dari proses-proses sebelumnya secara terus-menerus(Svehla,1985).
Menurut ilmu farmasi ada beberapa faktor yang mempengaruhi
ektraksi pelarut, sebagai beerikut:
1. pengembangan/pemelaran tanaman
Hal yang
perlu diperhatikan dalam proses ektrasi adalah perlakuan awal tanaman yang akan
diektrasi menggunakan pelarut.berikut beberapa alasannya:
a. Untuk mencegah pemelaran/pembengkakkan
tanaman didalam kemasan tertutup (wadah proses ekstraksi) secara tiba-tiba. Hal
ini terjadi jika pelarut yang digunakan adalah air, maka simplisia dapat
memelar/membengkak 2-3 kali dari volume awal yang akan menyebabkan peledakan
(pecahnya) alat ekstraksi yang mengakibatkan perlokasi tidak berlangsung dengan
baik.
b. Untuk menjamin proses
pembasahan secara merata dari tanaman yang akan diekstraksi, dan juga
meningkatkan kontak dan aliran pelarut dalam alat ekstraksi, serta mencegah
timbulnya gelembung udara penyebab timbulnya saluran udara.
c. Untuk meningkatkan porositas dinding sel yang
akan mempermudah difusi zat aktif yang akan diekstraksi dari sel menuju pelarut
atau penentrasi sel oleh pelarut. Pengembangan/pembengkakan bahan tanaman dalam
hal ini akan menjamin permeasi pelarut, dan konsekuensinya akan menghilangkan
zat terlarut didalam secara sederhana dan selektif.
2. Difusi, pH, Ukuran Partikel, dan Temperatur
a. Difusi
Dalam mengekstraksi bahan aktif dari simplisia,
pelarut harus berdifusi ke dalam sel. Dan selanjutnya zat aktif harus cukup
larut dalam pelarutnya. Sehingga kesetimbangan akan tercapai antara solute dan
solvent.
b.pH
pH berperan dalam selektifitas
pH berperan dalam selektifitas
c. Ukuran Partikel
ukuran partikel biasanya disesuaikan dengan
komposisi senyawa yang akan diekstraksi. Secara umum serbuk yang lebih halus
akan mudah di ekstraksi.
d. Temperatur
Temperatur dan gerakan cairan dalam proses ekstraksi
akan akan mempengaruhi kesetimbangan dan mengubahnya menuju saturasi pelarut.
Gerakan cairan dapat dicapai dengan membuat bahan tanaman tetap dan melakukan
sirkulasi pelarut baik itu menggunakan pompa atau pengadukan mekanik.
3. Pilihan Pelarut Ekstraksi
Dalam melakukan ekstraksi zat aktif tertentu secara
sempurna digunakan pelarut ideal yang mempunyai selektifitas maksimum,
kapasitas terbaik ditinjau dari koefisien saturasi produk dalam medium dan
kompatibel dengan sifat-sifat bahan yang diekstraksi. Parameter ini untuk
setiap tanaman biasanya didapatkan dari eksperimental karena pilihan pelarut
ini akan bergantung pada stabilitas senyawa yang diekstrask serta adanya
kemungkinan antaraksi antara pelarut dengan zat lain yang terdapat dalam proses
ekstraksi
Dalam percobaan ektraksi pelarut ada bebrapa
perlakuan yang di lakukan seperti pengocokkan, Pendiaman,
Membuka tutup corong pisah,Pencucian berulang kali. Pengocokkan di
lakukan agar larutan benar-benar tercampur dengan baik.proses pendiaman
dilakukan agar lapisan yang terbentuk dapat memisah dengan jelas dan dapat
dengan mudah dipisahkan. Tutup corong sesekali dibuka bertujuan untuk
mengeluarkan gas yang terbentuk secara perlahan.sedangkan pencucian berulang
ulang adalah agar alat yang digunakan tetap steril dan bekas larutan lain yang
menempel pada alat tersebut tidak tercampur lagi dengan larutan yang baru.
Persamaan reaksi adalah persamaan yang menunjukkan
reaksi zat pereaksi (reaktan) dengan zat hasil reaksi (produk). Asam stearat yang
memiliki rumus senyawa CH3(CH2)16COOH apabila
dicampurkan dengan NaOH akan membentuk persamaan reaksi sebagai berikut:
Pada hasil percobaan diperoleh kadar
asam stearat pada PE adalah 33,27%
sedangkan pada alkohol 0,23%. Asam astearat pada alkohol jauh lebih besar dari
pada pada PE.
Sabun adalah garam alkali
karboksilat (RCOONa) dimana gugus R bersifat hidrofobik karena bersifat
nonpolar dan COONa bersifat hidrofilik karena bersifat polar. Molekul sabun
terdiri dari bagian kepala yang disebut gugus hidrofilik dan bagian ekor yang
disebut gugus hidrofobik. Molekul sabun tersusun dari gugus alkali yang
bersifat nonpolar dan ion karboksilat yang bersifat polar. Bagian nonpolar akan larut dalam
minyak, sedangkan bagian polar akan larut dalam air. Prinsip terssebut
menyebabkan sabun memiliki daya pembersih. Keetika mandi dengan menggunakan
sabu, gugus nonpolar dari sabun akan menempel pada kotoran dan bagian polarnya
akan menempel pada air.
Asam stearate adalah campuran asam
organik padat yang diperoleh dari lemak sebagian besar terdiri dari asam
oktadekanoat,C18H36O2 dan asam heksakanoat C16H32O2 (Ditjen POM,1979).
PE (petroleum eter) adalah bahan
pelarut lemak nonpolar yang paling banyak digunakan karena harganya relative
murah, kurang berbahaya terhadap resiko kebakaran dan ledakan, serta lebih
selektif untuk lemak nonpolar. Petroleum eter bukan merupakan eter seperti
dietil etel, namun sejenis hidrokarkon ringan (Williamson,2011)
Asam lemak ini merupakan asam lemak
jenuh, wujudnya padat pada suhu ruang. Asam stearate diproses dengan
memperlakukan lemak hewan dengan air pada suhu dan tekanan tinggi. Asam ini
dapat p[ula diperoleh dari hidrogenasi minyak nabati. Dalam bidang industry
aasam sterat sebagai bahan pembuatan lilin,sabun,plastic, kosmetika, dan untuk
melunakan karet( Anonima,2010).
IV.
KESIMPULAN
1.
kadar
asam stearat pada eter adalah 0,23% sedangkan kadar asam stearat pada alkohol
adalah 33,27 %
2.
Ektraksi
pelarut adalah suatu proses pemisahan
subtansi atau zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai.
3.
Asam stearat direaksikan dengan NaOH membentuk persamaan
reaksi seeperti berikut: CH3(CH2)16COOH
+ NaOH CH3(CH12
)16 COONa+ H2O
4.
Ada
tiga metode dasar ektraksin cair-cair adalah ektrasi bertahap, ektraksi kontinu
dan ektraksi counter current.
5.
Hasil
perubahan setelah titrasi (PE) sebelum titrasi dengan volume 30 ml setelah
titrasi volume menjadi 0,2 ml, warna sebelum titrasi berwarna bening ketika sesudah
titrasi menjadi warna pink.
6.
Hasi
perubahan setelah titrasi (alkohol) sebelum titrasi dengan volume20 ml namun
setelah titrasi menjadi 19,8 ml. Warna sebelum titrasi bwning setelah titrasi
menjadi warna pink.
7.
Ketika
PE dan larutan sabun ditambahkan dengan NaCl jenuh, dikocok dan didiamkan
terjadi 2 lapisan yang terbentuk yaitu lapisan PE dan lapisan sabun menjadi
terpisah.
V. DAFTAR PUSTAKA
Fakultas farmasi,2011 ektraksi larutan.
Famasi.unand.ac.id/RPKPS/yang_memepengaruhi_ektraksi_pdf (7 oktober 2014
Arsyad, M. N. 1997. Kamus Kimia Arti dan
Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta.
Underwood,A.L.,dan Day A. R. 1990. Analisis Kimia Kuantitaif. Edisi 5. Erlanga. Jakarta
Harper dan Row. 1980. Kimia
Untuk Universitas. Edisi 6. Erlangga: Jakarta
Khopar, S.M. 2008. Konsep Kimia Analitik. UI-pres,
Jakarta
Merah,K.2013. pengaruh Jenis Pelarut dan Variasi. Jurnal Teknosains Pangan. 2 (1) : 3-5
Munaroh,S. 2010. Ektraksi Minyak Daun Jeruk Purut( Citrus
hystrix D.C) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana. Jurnal Kompetensi Teknik. 2 (1) :74-77
Andaka, G. 2009 . Optimasi Proses Minyak Kacang Tanah. Jurnal Teknologi sains dan farmakologi.
2 (1) :80-88
Langganan:
Postingan (Atom)